Kota Sejuta Wajah
Sore minggu
begitu menyenangkan ketika kami memutuskan beramai ramai keluar dari sangkar.
Ya, sangkar, ibarat kata kami ini adalah seekor burung yang terkurung. Hiruk pikuk kehidupan kampus,tugas
ini itu, tekanan quiz ataupun masalah cinta bagi mereka yang telah menemukan
cintanya.
Rasa bahagia
tak terkira ketika kami sampai di pusat kota yang begitu ramai,kota dimana kami
menimba ilmu dan menggantungkan harapan yang tertinggi. Adzan maghrib kala itu
begitu merasuk jiwa,mengingatkan sepenggal kisah di kampung halaman. Kendaraan
berlalu lalang,lampu jalan dan gedung gedung pencakar langit yang benderang
menambah suasana malam minggu yang meriah. Langkah kaki membawa kami pada
sebuah pusat perbelanjaan megah,pemandangan yang tak kami dapat di tempat kami
tinggal di dalam sangkar di atas bukit nan gersang. Lelah berjibaku dengan
keramaian kamipun keluar tanpa membawa barang yang berarti dan menuju ke sebuah
tanah lapang yang begitu penuh sesak dengan manusia. Tak ragu kami langsung
berfoto dengan berbagai pose kebersAmaan. Dalam perjalanan yang melelahkan kami
pun duduk bersama di tengah lapangan ditemani deru kendaraan yang beradu suara
dengan para musisi jalanan. Para penjaja sepatu roda dan otopet sederhana
memanjakan anak anak yang haus akan kesenangan bermain. Namun,di sisi lain
gemerlap malam minggu di kota ini terselip harapan tangan yang menengadah
meminta belas kasihan. Terkadang melintas anak anak kecil menwarkan
lembaran koran untuk alas pengunjung
duduk . Betapa berbanding terbalik dengan apa yang kami lihat sebelumnya.
Sungguh
ironi........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar