Sabtu, 03 November 2012

kesan

-->
Kota Sejuta Wajah
         Sore minggu begitu menyenangkan ketika kami memutuskan beramai ramai keluar dari sangkar. Ya, sangkar, ibarat kata kami ini adalah seekor burung yang  terkurung. Hiruk pikuk kehidupan kampus,tugas ini itu, tekanan quiz ataupun masalah cinta bagi mereka yang telah menemukan cintanya.
Rasa bahagia tak terkira ketika kami sampai di pusat kota yang begitu ramai,kota dimana kami menimba ilmu dan menggantungkan harapan yang tertinggi. Adzan maghrib kala itu begitu merasuk jiwa,mengingatkan sepenggal kisah di kampung halaman. Kendaraan berlalu lalang,lampu jalan dan gedung gedung pencakar langit yang benderang menambah suasana malam minggu yang meriah. Langkah kaki membawa kami pada sebuah pusat perbelanjaan megah,pemandangan yang tak kami dapat di tempat kami tinggal di dalam sangkar di atas bukit nan gersang. Lelah berjibaku dengan keramaian kamipun keluar tanpa membawa barang yang berarti dan menuju ke sebuah tanah lapang yang begitu penuh sesak dengan manusia. Tak ragu kami langsung berfoto dengan berbagai pose kebersAmaan. Dalam perjalanan yang melelahkan kami pun duduk bersama di tengah lapangan ditemani deru kendaraan yang beradu suara dengan para musisi jalanan. Para penjaja sepatu roda dan otopet sederhana memanjakan anak anak yang haus akan kesenangan bermain. Namun,di sisi lain gemerlap malam minggu di kota ini terselip harapan tangan yang menengadah meminta belas kasihan. Terkadang melintas anak anak kecil menwarkan lembaran  koran untuk alas pengunjung duduk . Betapa berbanding terbalik dengan apa yang kami lihat sebelumnya.
Sungguh ironi........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar